Cari Blog Ini

Memuat...

Minggu, 29 Juli 2012

Hakikat Cinta

Istilah ‘cinta’ bukanlah sesuatu yang asing lagi, telah menjadi perkara yang lumrah diketahui oleh keumuman orang. Dan sudah sekian banyak orang mencoba mendefinisikan kata ini, tetapi tidak ada seorang pun yang bisa tepat mencakup seluruh esensi makna cinta tersebut. Cinta seorang ibu kepada anaknya berbeda dengan cinta anak kepada ibunya, cinta seorang suami kepada istrinya berbeda dengan cinta seseorang kepada harta atau kedudukan. Demikianlah cinta. Alangkah nikmatnya tatkala anugerah cinta ini Allah bimbing dengan syariat-Nya dan betapa sedihnya ketika cinta tersebut buta tidak terbimbing atau Allah mencabut cinta tersebut dari dirinya. Seseorang yang telah hilang cintanya seakan ia telah kehilangan bagian besar fitrah dirinya, fitrah yang Allah ciptakan makhluk di atasnya. Sebagai seorang muslim, beribadah kepada Allah haruslah dilandasi oleh cinta kepada-Nya, Dzat yang telah menciptakan kita. Dalam shalat kita, puasa kita, haji kita semua tidak boleh lepas dari cinta, sebab ibadah seorang muslim kepada Allah itu dilandasi oleh tiga pokok utama; cinta, takut serta harap kepada Allah. Ketiga perkara ini adalah rukun ibadah, artinya ketiganya tidak boleh lepas dari ibadah seseorang. Allah ta’ala memerintahkan hambanya untuk beribadah kepada Allah dengan penuh cinta dan memberikan totalitas kecintaan kepada-Nya saja. Di sisi lain, Allah juga mencela hamba-Nya tatkala mereka menyamakan cinta antara Allah dengan selain-Nya sebagaimana firman-Nya, “Dan di antara manusia ada yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amatlah besar cintanya kepada Allah”. [Q.S. Al-Baqarah:165]. Dalam ayat yang mulia ini, Allah mencela seorang yang menjadikan sekutu bagi Allah dalam kecintaan, ia beribadah kepada selain Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan cinta seperti ibadahnya kepada Allah. Padahal, Allah adalah Al-Khaliq (Sang Pencipta), yang memberinya rezeki, menjaganya, dan memberikan nikmat yang tidak terhitung banyaknya, maka tidaklah pantas baginya membalas dengan ibadah kepada selain-Nya dan mencintai selainnya sama dengan cintanya kepada Allah. Cinta kepada Allah adalah wajib. Cinta yang disertai dengan pengagungan, pemuliaan, penghambaan, dan perendahan diri terhadap-Nya. Inilah cinta ibadah yang harus diberikan kepada Allah semata, tidak boleh kepada selain-Nya sedikit pun. Adapun cinta yang bersifat tabiat, seperti cinta kepada ayah, ibu, anak, istri, rumah, pekerjaan, hobi, dan yang lainnya tentu diperbolehkan selama cinta tersebut sebatas manusiawi dan tidak membuatnya melanggar hukum Allah. Sebab, tatkala cinta kepada selain Allah didahulukan daripada cinta kepada Allah, maka seseorang akan meninggalkan perintah Allah, melanggar larangan Allah, dan akan mengedepankan dunianya. Sungguh Allah telah mencela orang–orang yang seperti ini keadaannya, Allah berfirman yang artinya, “Katakanlah, ‘Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, isteri-isteri kalian, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kalian sukai lebih kalian cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. [Q.S. At-Taubah:24]. Ya, cinta memang indah, apalagi tatkala cinta dituntun di atas koridor syariat, seseorang akan merasakan nikmatnya Islam dan manisnya keimanan tatkala dilandasi dengan rasa cinta. Seperti halnya seorang makhluk yang berinteraksi dengan selainnya, akan indah dan menyenangkan jika didasari dengan cinta. Sungguh tatkala seorang hamba mencintai Allah, tentu Allah tidak akan menyia-nyiakannya, sebagaimana dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik z, beliau mengatakan, “Seseorang datang kepada Rasulullah ` dan bertanya tentang hari kiamat, maka Rasulullah ` bersabda, ”Apa yang engkau persiapkan untuk menyambutnya?” Orang tersebut menjawab, “Wahai Rasulullah `, aku tidak mempunyai persiapan dengan melakukan banyak shalat, tidak pula dengan berpuasa untuk menyambutnya. Hanya saja, aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Maka Rasulullah ` bersabda, “Seseorang bersama siapa yang dicintainya, dan engkau bersama dengan yang engkau cintai”. Maka, tidaklah kaum muslimin bergembira setelah keislaman mereka sebagaimana kegembiraan mereka demi mendengar hadits ini. Allahu a’lam. (Hammam). Sebarkan :

0 komentar:

Poskan Komentar